Unit musik alternative ambient asal Surabaya, Coldbloom, kembali menyapa pendengar lewat single terbaru bertajuk “We’ll Be Forgotten”. Setelah debut dengan lagu “When It Feels Like the End”, duo ini melanjutkan eksplorasi musikal mereka melalui karya yang mengangkat tema reflektif mengenai ketimpangan sosial, privilese, serta perasaan terlupakan di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Single terbaru ini menjadi langkah penting dalam perjalanan kreatif Coldbloom sekaligus membuka babak baru menuju proyek EP yang tengah mereka persiapkan.
“We’ll Be Forgotten” Angkat Kisah Mereka yang Sering Terlupakan
Melalui “We’ll Be Forgotten”, Coldbloom mengajak pendengar melihat realitas bahwa tidak semua orang memulai kehidupan dari titik yang sama. Di dunia yang tampak setara, sebagian orang memiliki akses, kesempatan, dan privilese yang membuat perjalanan mereka lebih mudah dikenali. Sementara itu, banyak orang lain harus berjuang jauh lebih keras hanya untuk memperoleh ruang yang sama.
Lagu ini menggambarkan bagaimana usaha, mimpi, dan kerja keras seseorang terkadang tetap tidak cukup untuk membuat dirinya diingat. Namun alih-alih menyalahkan keadaan atau pihak tertentu, Coldbloom memilih menyampaikan pesan tersebut melalui lirik yang jujur, emosional, dan penuh empati.
Tema tersebut menjadikan “We’ll Be Forgotten” sebagai karya yang dekat dengan pengalaman banyak orang yang pernah merasa tak terlihat atau terabaikan.

Balutan Musik Ambient yang Emosional dan Atmosferik
Secara musikal, “We’ll Be Forgotten” tetap mempertahankan karakter khas Coldbloom melalui perpaduan worship ambience dan alternative ambient.
Nuansa ambient yang melankolis dipadukan dengan lapisan instrumen yang sederhana namun emosional, menciptakan ruang refleksi yang luas bagi pendengar. Setiap elemen suara dibangun untuk menghadirkan pengalaman mendengarkan yang intim, mengajak siapa pun merenungkan posisi mereka di tengah dunia yang terus berubah.
Atmosfer yang dihadirkan membuat lagu ini tidak hanya dinikmati sebagai musik, tetapi juga sebagai medium kontemplasi terhadap berbagai pergumulan hidup.
Menjadi Awal Perjalanan Menuju EP Baru
Lebih dari sekadar rilisan terbaru, “We’ll Be Forgotten” merupakan pintu masuk menuju proyek yang lebih besar.
Coldbloom mengungkapkan bahwa lagu ini menjadi bagian dari rangkaian cerita yang sedang mereka bangun untuk sebuah EP mendatang. Meski belum mengungkapkan detail lengkapnya, mereka memberi isyarat bahwa tema-tema seperti identitas, kehilangan, harapan, hingga pergulatan manusia akan saling terhubung dalam sebuah narasi yang utuh.
Dengan demikian, single ini menjadi fondasi awal dari dunia kreatif yang tengah mereka kembangkan.
Coldbloom, Duo Alternative Ambient Asal Surabaya
Coldbloom merupakan unit musik asal Surabaya yang mengusung perpaduan musik worship ambience dan alternative ambient.
Saat ini Coldbloom digawangi oleh:
- Aiko Isabetry – Vokal
- Johannes F. Elyas – Bass & Vokal
Di luar aktivitas bermusik, kedua personel juga memiliki latar belakang sebagai desainer grafis dan seniman visual. Pengalaman tersebut memberi pengaruh besar terhadap identitas artistik Coldbloom yang tidak hanya berfokus pada musik, tetapi juga eksplorasi visual, ilustrasi, hingga eksperimen bunyi.
Melalui berbagai platform digital, Coldbloom berusaha menghadirkan pengalaman audio-visual yang saling melengkapi sehingga setiap karya dapat dinikmati dalam berbagai sudut pandang dan membuka ruang interpretasi yang lebih luas bagi para pendengar.
“We’ll Be Forgotten” Jadi Langkah Baru Coldbloom
Lewat “We’ll Be Forgotten”, Coldbloom kembali menunjukkan komitmennya dalam merespons berbagai pergumulan manusia melalui musik yang atmosferik, emosional, dan reflektif.
Single ini menjadi pengingat bahwa di balik dunia yang tampak berjalan sama bagi semua orang, terdapat banyak kisah yang tidak pernah memperoleh ruang untuk didengar. Namun melalui musik, Coldbloom berusaha menghadirkan ruang bagi cerita-cerita tersebut agar tidak benar-benar terlupakan.
Dengan hadirnya single ini, Coldbloom sekaligus memberikan gambaran awal mengenai arah musikal EP terbaru mereka yang akan memperluas tema-tema tentang identitas, kehilangan, harapan, dan perjuangan hidup dalam sebuah pengalaman yang lebih utuh.



